Cara Bijak Menerapkan Meta-Model

Cara Bijak Menerapkan Meta-Model

By   Superuser  |   499 views 09 September 2015 at 04:05 WIB

Meta-Model adalah model awal dari keilmuan NLP. Meta-Model adalah hasil pemodelan dari pengamatan yang dilakukan oleh pendiri NLP, Richard Bandler dan John Grinder, terhadap 2 orang terapis yang luar biasa, yaitu Virginia Satir seorang Family Therapist, dan Fritz Perls seorang Gestalt Therapist.

Richard Bandler dan John Grinder mengamati dengan seksama bahwa kekuatan kedua orang therapist tersebut adalah kepiawaian mereka dalam melontarkan pertanyaan kepada Client, atau lebih tepatnya memberikan komentar atau pertanyaan susulan setelah Client melontarkan sebuah pernyataan, dimana komentar ataupun pertanyaan-pertanyaan susulan ini membuat Client memiliki wawasan lebih luas dan menemukan berbagai hal yang mungkin sebelumnya tidak disadari.

Filosofi dari konsep Meta-Model adalah diyakini bahwa manusia saat merekam realita (external world) adalah berupa kesatuan utuh, akan tetapi saat mereka mengungkapkannya kembali secara verbal, biasanya dalam konteks tertentu, maka terjadi proses pelucutan dari kesatuan utuh yang ada sebelumnya, dimana dikenal dengan proses yang diistilahkan sebagai : Distortion, Deletion, dan Generalization.

Secara praktis, apa yang diungkapkan seseorang, kemungkinan besar tidak mewakili situasi dan kondisi yang terjadi sebenarnya, karena ekspresi verbal yang telah diungkapkan kemungkinan telah dikebiri oleh proses : Distortion, Deletion, dan Generalization, mungkin saja dikarenakan faktor emosional dalam konteks tertentu.

Teknik Meta-Model adalah sebuah analisa praktis linguistik untuk membantu seseorang agar kembali melengkapi suatu hal yang mungkin telah dilucuti oleh proses : Distortion, Deletion, dan Generalization tersebut. Karena itu dalam NLP klasik (Classic Code) dirumuskan pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi dalam sebuah ekspresi verbal, pelanggaran-pelanggaran yang dimaksud adalah kemungkinan terjadi proses : Distortion, Deletion, dan Generalization ini. Kemungkinan-kemungkinan pelanggaran ini ditindak-lanjuti dengan berbagai pertanyaan (challenge) yang bertujuan untuk kembali melengkapi hal-hal yang mungkin “hilang”, “terdistorsi”, atau “di-generalisasi”, sehingga akhirnya dicapai kembali kesatuan utuh yang diharapkan dapat memberdayakan Client.

Secara sederhana, misalkan seseorang menyatakan :

“Semua orang membenci saya”

Maka dapat kita bayangkan betapa menderitanya yang bersangkutan, karena secara emosional ia merasa tidak seorangpun yang tidak membencinya. Saat yang sama kita juga segera dapat mengetahui bahwa pernyataan tersebut adalah TIDAK BENAR, karena telah terjadi proses generalisasi secara tidak disengaja, dan membuat seseorang tersebut merasa tidak berdaya.

Ketika kita mencoba untuk mempertanyakan secara lebih detail, dengan pertanyaan-pertanyaan Meta-Model, dalam gaya Sleight of Mouth (SOM), misalkan :

“Apakah tetangga depan membenci anda ? Apakah sopir di kantor anda juga membenci anda ?”

Maka kemungkinan jawabannya adalah “Tidak”, dan ternyata setelah kita semakin detailkan, selanjutnya mungkin yang bersangkutan akan mengatakan :

“Ya, sebenarnya yang tidak menyukai saya adalah mertua saya dan adik-adik dari suami saya”

Dapat dibayangkan, saat seseorang berada dalam tekanan emosional, maka fakta bahwa hanya beberapa orang yang tidak menyukainya dapat dengan mudah di-generalisasi dalam sebuah ekspresi verbal :

“Semua orang membenci saya”

Dan dapat dibayangkan pula, betapa menjadi sangat berdayanya orang dimaksud, ketika ia benar-benar menyadari bahwa ternyata masih banyak orang yang menyukai dan mencintai dirinya !

Dalam NLP dikenal sebuah presupposition :

“The Map is Not The Territory”

Atau secara sederhana sebuah peta mental yang terdapat dalam diri seseorang, seringkali tidak sesuai dengan fakta (teritori), dimana dalam kondisi tekanan emosional yang buruk sangat besar kemungkinan terjadi gambaran peta mental yang jauh lebih “buruk” dari hal yang sesungguhnya terjadi.

Nah, mungkin sudah dapat semakin dipahami bahwa tujuan utama teknik Meta-Model adalah membuat seseorang dapat memperbaiki peta mentalnya sehingga mendekati teritori atau fakta yang sesungguhnya, dan tentunya diharapkan akan membuat seseorang tersebut menjadi lebih berdaya.

***

Mempelajari NLP, khususnya Meta-Model, seringkali membuat seseorang terlalu asyik dengan mengamati berbagai pelanggaran ekspresi verbal dari orang lain, dan melakukan “challenge” atas pelanggaran dimaksud dengan sangat bersemangatnya, sehingga justru menimbulkan kesan komunikasi yang sangat tidak ekologis.

Perlu dipahami bahwa komunikasi bagaimanapun harus dikemas secara apik, mengalir, dan ekologis, termasuk dalam melakukan “challenge” terhadap pelanggaran Meta-Model, dengan kata lain ber-Meta-Model-pun membutuhkan kepiawaian seni komunikasi yang sangat tinggi.

***

Meta-Model tidak saja berguna dalam konteks terapi, melainkan dalam komunikasi umum dalam kehidupan sehari-hari. Meta-Model membuat suatu komunikasi penting, misal suatu pengambilan keputusan, menjadi lebih “clear”, karena tidak lagi berada di ruang persepsi masing-masing pihak yang berkomunikasi, melainkan sudah disajikan secara lebih jelas dan dapat “dilihat” oleh setiap orang.

Dapat dibayangkan ketika seorang pimpinan bertanya kepada bawahannya :

“Bagaimana ? Apakah proposal kemarin sudah beres ?”

Dan dijawab :

“Beres Pak !”

Dan kita sudah dapat menduga, bahwa arti dari kata “beres” diantara kedua pihak tersebut dapat saja saling berbeda, dan bahkan dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang salah.

Nah, selamat menerapkan Meta-Model secara apik dan bijak !

***

Sumber:  http://www.yannurindra.com/cara-bijak-menerapkan-meta-model/