Mengapa Anak Tidak Suka, Takut, atau Lambat dalam Belajar Matematika?

Mengapa Anak Tidak Suka, Takut, atau Lambat dalam Belajar Matematika?

By   Superuser  |   624 views 16 September 2015 at 04:41 WIB

Beberapa minggu ini saya banyak menangani kasus anak “bermasalah”. Usianya beragam mulai empat tahun hingga remaja. Umumnya, dalam menangani klien anak, saya selalu mewajibkan kedua orangtua atau pengasuh utama anak hadir di sesi awal untuk konsultasi atau konseling. Dan biasanya dari sesi awal ini saya dapatkan gambaran umum pola asuh yang berlaku di rumah dan tentunya pengaruhnya terhadap kondisi psikologis anak.

Pada paragraf di atas saya menuliskan kata bermasalah di antara tanda kutip untuk menunjukkan bahwa belum tentu anak bermasalah. Sering dijumpai, anak normal, baik, namun dianggap bermasalah karena pemahaman orangtua yang salah mengenai tahap perkembangan psikologis anak. Banyak anak menjadi atau dibuat menjadi bermasalah karena pola asuh dan proses pendidikan yang tidak berpihak pada keunikan anak dan menciderai psikis anak.

Proses belajar yang benar seyogyanya memerhatikan tahap perkembangan anak. Piaget membagi perkembangan anak menjadi empat tahap: Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun), periode praoperasional (usia 2–7 tahun), periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun), dan periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa).

Dalam pembelajaran matematika yang umum terjadi adalah anak tidak mendapat kesempatan belajar secara konkrit. Yang dimaksud dengan pembelajaran konkrit adalah anak menggunakan benda-benda konkrit, yang bisa dimanipulasi dengan tangan, dipegang, dilihat, dirasakan, untuk memahami konsep banyak atau sedikit. Anak, biasanya, langsung dikenalkan dengan angka. Mulai angka 1,2,3, satuan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Angka adalah simbol dan sifatnya abstrak. Untuk memahami angka, anak terlebih dahulu perlu mengkonstruksi pemahaman menggunakan benda konkrit. Cara ini yang dulu digunakan para orangtua mengajar anak-anak mengenal jumlah dan angka. Namun sayangnya cara ini, saat ini, sudah jarang digunakan. Anak langsung diajari angka, tanpa melewati proses belajar konkrit.

Untuk bisa membuat anak jago matematika biasanya orangtua akan mengirim anak ke kursus matematika. Dari pengamatan saya, banyak kursus yang hanya menerapkan prinsip drilling, anak diberi tugas yang (sangat) banyak dengan prinsip pengulangan agar bisa menghitung cepat. Namun bila anak diberi soal cerita dan perlu mengerti maksud cerita untuk bisa melakukan kalkulasi matematis biasanya anak mengalami kesulitan. Anak juga biasanya tidak bisa merasakan berapa banyak selisih antara satu dan sepuluh, atau sepuluh dan dua puluh. Benar mereka tahu bahwa sepuluh lebih besar dari satu. Namun berapa bedanya, selisihnya, banyaknya, mereka tidak bisa merasakannya. Ini semua karena konstruksi pemahaman anak tidak berdasar proses belajar konkrit.

Kendala lain muncul saat anak yang belum fasih penjumlahan tiba-tiba diajari tabel perkalian. Ini juga satu kesalahan fatal. Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan berulang. Lemah di penjumlahan membuat anak sulit menguasai perkalian.

Belum lagi bila orangtua menuntut anaknya pintar matematika seperti anak temannya, atau menguasai materi yang sebenarnya belum waktunya dipelajari dan dikuasai si anak. 

Kendala beruntun ini akhirnya membuat anak merasa matematika sulit, tidak menyenangkan, menakutkan, dan perlu dihindari sebisa mungkin. Dan ini akan terus terbawa hingga dewasa.

Orangtua, tanpa tahu duduk masalah yang sebenarnya, berusaha membantu anak mengatasi masalah dengan meminta atau mengharuskan anak belajar lebih keras, lebih lama, les matematika dengan guru berbeda. Ada juga orangtua yang menggunakan cara yang keras dalam upaya membuat anaknya pintar matematika, misalnya memarahi, mengancam, atau menghukum. Anak bukannya menjadi lebih berkembang justru menjadi semakin trauma dan tidak suka matematika. Anak menghubungkan belajar matematika atau matematika itu sendiri dengan penderitaan (pain), rasa sakit, tidak nyaman.

Faktor lain yang membuat anak tidak suka matematika adalah karena cara mengajar guru yang kurang menghargai keunikan dan kecepatan belajar anak. Ada guru yang menuntut anak menguasai bahan ajar dengan cepat. Bila anak agak lambat biasanya guru akan menegur atau memberi label anak bodoh. Ada juga guru yang karena sikapnya, disengaja atau tidak, membuat anak malu, di dalam kelas, karena tidak bisa mengerjakan soal. Semua ini memberi kontribusi pada ketidaknyamanan anak terhadap pelajaran matematika.

Solusi untuk masalah ini adalah pertama, emosi negatif yang berhubungan dengan matematika harus dihilangkan total. Kedua, kecakapan dasar matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian perlu diperkuat. Bila perlu, anak tinggal kelas untuk mendapat kesempatan memperbaiki fondasi matematikanya. Dan ketiga, yang juga sangat penting adalah pendampingan, dukungan, kasih sayang dari orangtua pada anak.

Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua adalah adanya lompatan materi yang cukup signifikan antara SD kelas 3 dan kelas 4. Anak yang kemampuan matematika dasarnya tidak kuat akan mengalami kesulitan saat naik kelas 4.

Satu kendala lain yang pernah saya temukan pada klien anak SD yang tidak suka matematika yaitu ia tidak mengerti soal, yang ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga tidak bisa menjawab dengan benar. Saat soal ditulis dalam bahasa Indonesia anak mampu menjawab dengan benar.

Saya pernah menangani anak perempuan, sebut saja sebagai Jeni, kelas 4 SD yang sangat pintar penjumlahan, perkalian, dan pembagian. Namun, saat diminta mengerjakan soal pengurangan, Jeni tidak bisa. Jeni merasa takut dan cemas saat diminta mengerjakan soal pengurangan. Dan setelah diterapi baru diketahui penyebabnya.

Ayahnya Jeni telah berusaha membantu Jeni mengatasi masalah ini. Ia bahkan telah meminta Jeni menjalani tes IQ, tes sidik jari, konseling, memberi les matematika pada Jeni. Hasilnya, tidak seperti yang diharapkan. Bahkan tes sidik jari Jeni menyatakan IQ-nya Jeni hanya 90an. Saya tentu tidak percaya dengan hal ini. 

Saat jumpa saya di ruang terapi, Jeni mampu berkomunikasi dengan lancar dan menjelaskan masalahnya. Dari sini saya tahu Jeni punya rasa percara diri yang bagus. Dan semakin saya bicara dengan Jeni semakin saya meragukan hasil tes IQ-nya. Jeni tampak sebagai anak yang cerdas. 

Apa yang terjadi pada Jeni? Sekolah Jeni menggunakan kurikulum internasional dengan buku ajar dari Australia.  Saat kelas 1 SD mereka tentu diajari matematika. Di sinilah muncul masalah. Sistem mata uang Australia dan Indonesia jelas beda. Australia menggunakan dolar dan sen. Satu dolar sama dengan 100 sen. Dan saat itu Jeni diminta ke depan kelas mengerjakan soal cerita. Kendala mundul karena ia melakukan pengurangan 10 dolar dan 2 dolar 63 sen. Atau bila dalam bahasa matematis persamaannya adalah: 10 – 2,63. Ini adalah bilangan desimal yang tentu sangat sulit dipahami oleh anak kelas 1 SD.

Akibatnya, Jeni tidak bisa dan ditertawakan teman-temannya. Ini diperparah lagi dengan gurunya memberi “motivasi” negatif dengan berkata, “Masa soal begini mudah nggak bisa?”

Perasaan malu, cemas, takut, dan tidak mampu yang Jeni rasakan saat di depan kelas ini langsung terhubung dengan pengurangan. Dan setelahnya, setiap kali mengerjakan soal pengurangan Jeni pasti tidak bisa. Usai terapi, saat saya beri soal pengurangan ia dapat mengerjakan dengan mudah dan percaya diri.

Sumber:  http://adiwgunawan.com/?p=article&action=shownews&pid=254

Judul Asli: Mengapa Anak Tidak Suka, Takut, atau Bodoh Matematika?